Mengenai Saya

Foto saya
blog ini dalam masa perbaikan. mohon maaf untuk sementara tidak saya update isinya

Selasa, 10 Februari 2009

Dilematika rokok

. Selasa, 10 Februari 2009

Pada awalnya merupakan gaya hidup, waktu masih kecil sering melihat temen-temen saya yang lagi mencoba merokok. Saya tanyakan kenapa dia mencoba untuk merokok, ternyata hanya coba-coba, dan katanya kalo merokok lebih terlihat dewasa dan macho.


Iklan di TV, poster, pamflet, dan banyak lagi cara untuk menyebar luaskan produk rokok, dengan dibumbui hal menarik pada iklan maupun gambarnya, membuat semakin digandrungi bahkan membuat orang untuk mencobanya. Belum lagi banyak perusahaan rokok yang ikut serta menjadi sponsorship dari sebuah acara maupun kegiatan, sehingga rokok benar-benar melekat dihati masyarakat sebagai hal yang lumrah, bahkan sedikit menutupi bahaya yang terkandung didalamnya. Walau telah tertulis bahaya merokok di setiap kerdus rokok, tapi budaya bangsa kita yang semakin luntur, lebih mengutamakan kenikmatan dan kesenangan tanpa memperdulikan dampak yang dapat terjadi, bila kita mengkonsumsi rokok tersebut.

Dari segi kesehatan, rokok sangat berbahaya, bahkan sangat untuk tidak dianjurkan untuk dikonsumsi. Tapi negara kita tidak bisa lagi menekan angka pengguna bahkan memutus mata rantai produsen rokok, maklumlah pajak cukai di negeri kita cukup banyak menghasilkan pendapatan negara, belum lagi banyak perusahaan rokok yang menampung tenaga kerja, bayangkan saja bila perusahaan-perusahaan tersebut di tutup.

Sosialisasi sudah cukup gencar untuk menekan pengguna rokok. Tapi hasilnya....kalah dengan gencarnya iklan-iklan yang yang disodorkan perusahaan rokok yang lebih

mendominasi akal dan pikiran, sehingga ketertarikan untuk mencobanya lebih besar.

Pengaruh-pengaruh seorang remaja merokok, diantaranya:

1. Pengaruh orang tua atau keluarga terdekat.

Bila didalam rumah tangga, orang tua adalah perokok. Hal ini bisa menimbulkan kecendrungan si anak, juga ikut merokok. Guru teladan dirumah adalah orang tua, ketika beranjak dewasa, si anak telah sering melihat dan merasakan bau asap rokok, hal ini bisamembuat kecendrungan si anak ikut mencoba. Walau terkadang mendapat larangan untuk tidak mengikuti jejak mereka (merokok), bodoh rasanya bila ada orang yang masih aktif merokok mengajarkan orang lain untuk tidak merokok. Tingkat kedewasaan anak, menyebabkan daya berpikir lebih kritis, sehingga larangan tersebut sering tidak dipatuhi. Keharmonisan keluarga juga dapat berpengaruh seorang remaja untuk merokok, rokok mengandung nikotin yang membuat penggunanya kecanduan, bahkan memberikan sugesti ketenangan, sehingga untuk menghilangkan kekecewaannya atau masalah keluarganya, si anak mencoba untuk merokok.

2. Pengaruh sahabat dan lingkungan sekitar.

Pengaruh sahabat dan lingkungan sangat rentan mempengaruhi kepribadian seseorang, sepertihalnya merokok, tingkat kedewasaan seseorang mempengaruhi dasar berpikir untuk dapat dan merasa lebih diakui, dengan merokok, seorang anak dapat merasa diakui, dianggap telah dewasa, gaul, macho dan jantan. Agar merasa lebih diakui dan dianggap lebih inilah yang membuat seorang anak berani mencoba merokok.

3. Kepribadian.

Rasa ingin tahu, menjadi titik awal seseorang untuk mencobanya. Semua orang pasti merasakannya, ketika mengetahui sesuatu yang asing, ingin sekali memahami ataupun mencobanya. Merokok merupakan pilihan seseorang dalam melepaskan penat, emosi, sakit fisik maupun jiwa.dan juga membebaskan diri dari kebosanan. Dengan merokok bisa menenangkan hati dan jiwa seseorang. Kepribadian seperti inilah yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan orang-orang terdekat.

Keimanan seseorang dalam beribadah juga menjadi faktor pendukung,. Tidak ada dalam agama manapun yang mengajarkan umatnya untuk berbuat kerusakan, baik pada dirinya maupun orang lain dan linkungan sekitar. Merokok selain merusak jiwa si pengguna, juga mengganggu kesehatan dan kenyamanan orang lain, sehingga seharusnya budaya merokok wajib untuk di hindari.



Entah apa yang ingin disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang hukum merokok, MUI menyatakan haram hukumnya mengkonsumsi rokok bila umur belum mencapai baligh atau masih anak-anak, begitu juga dengan wanita hamil. MUI seharusnya lebih tegas, pembatasan umur sungguh riskan didengar, kenapa tidak menyeluruh saja, bahwa merokok itu haram!!!, tidak pandang bulu, mau anak-anak ataupun orang dewasa, bahkan tua renta sekalipun. Banyak selentingan ditelinga saya bahwa pembatasan umur itu karena banyak para ulama yang juga pengkonsumsi rokok, entah apa benar demikian.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Terimakasih telah membaca postingan ini. Ditunggu komentarnya...

 
Blogger Cupu is proudly powered by Blogger.com | Download Template: o-om.com | re edited by awan